SEKILAS INFO
: - Rabu, 20-01-2021
  • 9 bulan yang lalu / Kita dukung kebijakan pemerintah dan anjuran ulama dalam darurat Covid19 untuk STAY AT HOME, jaga kebersihan, terapkan social distancing. Semoga Indonesia segera terbebas dari wabah CORONA19
  • 9 bulan yang lalu / Selamat Datang d Website Resmi SMA NU Juntinyuat Indramayu Jawa Barat
  • 2 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website SMA NU Juntinyuat Indramayu Jawa Barat
PENDIDIKAN NILAI MENJADI SKALA PRIORITAS DALAM MENDIDIK SISWA SISWI SMA NU JUNTINYUAT.

Pendidikan nilai memiliki peranan strategis dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia yang utuh. Pembinaan nilai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan dapat menjadi sarana ampuh dalam menangkal pengaruh-pengaruh negatif. Sejalan dengan derap laju pembangunan dan laju perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS), serta arus reformasi sekarang ini, pembinaan nilai semakin dirasa penting sebagai salah satu alat pengendali bagi tercapainya tujuan pendidikan nasional secara utuh. Namun, sekarang ini tampak ada gejala di kalangan anak muda, bahkan orang tua yang menunjukkan bahwa mereka mengabaikan nilai dan moral dalam tata krama pergaulan yang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat yang beradab (civil society).

Dalam era Industri 4.0 sekarang ini seolah-olah orang bebas berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. Misalnya, perkelahian massal, penjarahan, pemerkosaan, pembajakan kendaraan umum, penghujatan, perusakan tempat ibadah, lembaga pendidikan, kantor-kantor pemerintahan terlebih penggunaan Media social yang kurang bijaksana yang condong digunakan untuk memfitnah, mengaduh domba, memecah belah dan melakukan Ujaran kebencian dan sebagainya, yang menimbulkan korban jiwa dan korban kemanusiaan.

Bangsa Indonesia saat ini tidak hanya mengalami proses pendangkalan nilai yang seharusnya dimiliki serta dihayati dan dijunjung tinggi. Nilai-nilai itu kini bergeser dari kedudukan dan fungsinya serta digantikan oleh keserakahan, ketamakan, kekuasaan, kekayaan dan kehormatan. Dengan pergeseran fungsi dan kedudukan nilai itu, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dirasakan semakin hambar dan keras, rawan terhadap kekerasan, kecemasan, bentrok fisik (kerusuhan) dan merasa tidak aman.

Dekadensi moral juga tercermin dalam sikap dan perilaku masyarakat yang tidak dapat menghargai orang lain, hidup dan perikehidupan bangsa dengan manusia sebagai indikator harkat dan martabatnya. Nilai-nilai moral menempatkan hak asasi manusia (HAM) sebagai ukuran pencegahan pelanggaran-pelanggaran berat, seperti pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian, penculikan, pembakaran, perusakan dan lain-lain.

Dengan demikian, salah satu problematika kehidupan bangsa yang terpenting di abad ke-21 adalah nilai moral dan akhlak. Kemerosotan nilai-nilai moral yang mulai melanda masyarakat kita saat ini tidak lepas dari ketidakefektifan penanaman nilai-nilai moral, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat secara keseluruhan. Efektivitas paradigma pendidikan nilai yang berlangsung di jenjang pendidikan formal hingga kini masih sering diperdebatkan.

Terpuruknya bangsa dan negara Indonesia dewasa ini tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi melainkan juga oleh krisis nilai dan akhlak. Oleh karena itu, perekonomian bangsa menjadi ambruk, korupsi, kolusi, nepotisme, dan perbuatan-perbuatan yang merugikan bangsa merajalela. Perbuatan-perbuatan yang merugikan dimaksud adalah perkelahian, perusakan, perkosaan, minum minuman keras, dan bahkan pembunuhan. Keadaan seperti itu, terutama krisis nilai dan akhlak terjadi karena kesalahan dunia pendidikan atau kurang berhasilnya dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda bangsanya.

Dunia pendidikan telah melupakan tujuan utama pendidikan yaitu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara simultan dan seimbang. Dunia pendidikan kita telah memberikan porsi yang sangat besar untuk pengetahuan, tetapi melupakan pengembangan sikap/nilai dan perilaku dalam pembelajarannya. Dunia pendidikan sangat meremehkan mata-mata pelajaran yang berkaitan dengan pembentukan karakter bangsa.

Di sisi lain, tidak dimungkiri bahwa pelajaran-pelajaran yang mengembangkan karakter bangsa seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Pendidikan Agama, Ilmu Pengetahuan Sosial dalam pelaksanaan pembelajarannya lebih banyak menekankan pada aspek kognitif daripada aspek afektif dan psikomotor. Di samping itu, penilaian dalam mata-mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan nilai belum secara total mengukur sosok utuh pribadi siswa.

Memperhatikan hal-hal tersebut, terjadi gugatan dan hujatan terhadap dunia pendidikan, kepada guru, dan terhadap proses pembelajaran. Di samping itu, terjadi pembicaraan dan diskusi tentang perlunya pemberian pelajaran nilai budi pekerti secara terpisah dari mata-mata pelajaran yang sudah ada atau secara terintegrasi ke dalam mata-mata pelajaran yang sudah ada (PPKN, Pendidikan Agama, dan sejenisnya) kepada para siswa sekolah dasar pada khususnya.

Oleh karena itu, reposisi, re-evaluasi dan redefinisi terhadap “rumpun” Pendidikan Nilai khususnya, dipandang perlu agar tujuan kurikuler dan tujuan nasional pendidikan yang bermaksud menyiapkan generasi bangsa yang berwatak luhur dapat tercapai.

Melihat itu semua kami seluruh steakholder pendidikan di SMA NU Juntinyuat mulai dari ketua Yayasan dan jajarannya, Kepala sekolah, guru, TU dan seluruh warga Sekolah berusaha keras menomorsatukan penanaman Budi Pekerti dan akhlak yang baik bagi seluruh siswa siswi kami dengan pola Peneladanan, Pembiasaan dan pemaksaan secara istiqomah.

Program program utama yang kami terapkan di SMA NU Juntinyuat mulai dari membudayakan kebiasaan 4S (Salam, sapa, Senyum dan Salaman) setiap kami bertemu dan berpapasan, dilanjutkan dengan pembiasaan 2S (Sopan dan santun) dalam bertindak dan berujar, baik di rumah di sekolah maupun di tengah tengah masyarakat.

Selain dari itu kami melakukan pembiasaan Literasi Doa bersama dalam kegiatan tahlil dan istighosah setiap pagi hari diawal kegiatan Belajar dilanjutkan Hamilul qur’an (pembacaan Alqur’an surat surat Pendek dan surat surat Masyhur), terus kami lanjutkan dengan pembiasaan K3 mulai dari kelas masing masing teras kelas dan halaman sekolah secara gotong royong dan bergantian. Selesai itu Baru dilakukan kegiatan Pembelajaran di kelas maupun di luar kelas (di halaman sekolah, di ruang laboratorium) maupun tempat lain sesuai kebutuhan pembelajaran yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan oleh guru.

Pada waktu sholat dhuhur kami biasakan untuk berjamaah, walau belum semua siswa bisa sholat berjamaah Karen factor Masjid/Musholla kami yang masih terbatas. Setelah sholat dhuhur berjamaah kita lanjutkan dengan Latihan khitobah yang disampaikan oleh siswa siswi secara berganian, kemudian disimpulkan oleh Guru.

Walau belum sempurna program yang kami buat, karena persoalan tehnis dan juga anggaran kami berharap sedikit banyak nilai nilai karakter bangsa terkhusus nilai nilai agama (Islam) akan menjadi sebuah kebiasaan (Habit) bagi anak anak (siswa siswi) kami.

Kami sangat berpegang teguh apa yang telah didawuhkan oleh Mbah Maemun (KH Maemun Zuber) bahwa tidak semua orang pinter itu baik, dan tidak semua orang baik itu Pinter. Mengejari orang bodoh yang baik jauh lebih mudah ketimbang meluruskan orang Pinter yang jahat. Oleh karena itu kami berharap Siswa siswi kami menjadi Orang baik walau mereka belum pinter, dan yang paling diharapkan siswa siswi kami kelak menjadi orang yang bener dan sekaligus Pinter.

Begitulah Cita cita dan harapan kami dalam menanamkan Pendidikan Nilai bagi siswa siswi kami. Semoga Allah memudahkan ikhtiar kami dan mendapat dukungan dari Orang tua, masyarakat dan pemerintah.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

TINGGALKAN KOMENTAR

WhatsApp chat