SEKILAS INFO
: - Rabu, 20-01-2021
  • 9 bulan yang lalu / Kita dukung kebijakan pemerintah dan anjuran ulama dalam darurat Covid19 untuk STAY AT HOME, jaga kebersihan, terapkan social distancing. Semoga Indonesia segera terbebas dari wabah CORONA19
  • 9 bulan yang lalu / Selamat Datang d Website Resmi SMA NU Juntinyuat Indramayu Jawa Barat
  • 2 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website SMA NU Juntinyuat Indramayu Jawa Barat
Sikap Berdakwah di Era Millenial

oleh: Subhan Candy

(Mahasiswa Pascasarjana
Institut Pesantren KH. Abdul Chalim). Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.*

Dakwah, hakikatnya mengajak. Artinya, setiap ajakan ada yang mengikuti dan sebaliknya. Allah SWT sendiri menegaskan bahwa wilayah “hidayah” adalah otoritas-Nya, bahkan nabi Muhammad SAW oleh Allah hanya ditugas untuk menyampaikan dan mengajak.

Keberhasilan dakwah nabi SAW sebab akhlaq karimah. Kejujuran, kesopanan, kesantunan dan segala sifat terpuji terkumpul dalam diri beliau.

Allah, sungguh memelihara Islam atas kesucian-Nya. Untuk itulah, Allah SWT tidak mengizinkan celah sedikit pun bagi umat-Nya mengotori hati dan lisannnya menghina ataupun mengejek keyakinan diluar Islam.

Manusia, mudah terpancing emosinya bila agamanya disinggung. Hal itu lumrah dan wajar. Jika demikian, setiap mereka yang beragama memiliki sensitifitas yang sama akan keyakinannya masing-masing.

Keyakinan berpusat di hati. Sebab itulah emosi juga hadir dari hati. Orang mudah merubah pendapatnya, namun sulit menggeser keyakinannya.

Di era millenial saat ini, tak lagi ada “ruang tertutup”. Semuanya serba terbuka. Keterbukaan itu hampir tidak menyisakan “etik”. Bayangkan, setiap aktifitas harian seseorang dapat diketahui dari status hariannya di Medsos sampai pada yang “maaf” “Buka – buka an”.

Setiap orang dapat menyaksikan dakwah para Ustadz, Kyai, Pendeta dan lainnya dalam rumahnya sendiri, kapan pun dan dimana saja. Bersyukurlah bagi mereka yang banyak mengambil hikmah kebaikan dan meng-abaikan kelemahan.

Tidak gampang merawat kerukunan. Jangankan pada wilayah yang lebih luas, perbedaan dalam tubuh keluarga pun sering memicu api konflik. Solusinya adalah saling mengerti.

Memahami karakter dan perbedaan, secara sederhana dengan prinsip:”Jika tak ingin disenggol, jangan menyenggol. Jika tak ingin disakiti, jangan menyakiti.” Dengan demikian, kesadaran menahan diri akan menghadirkan kerukunan dan kedamaian.

Siapapun, tentunya tidak mau mengikuti “kebiasaan yang tak santun” meskipun itu benar adanya. Nabi Muhammad SAW tidak pernah “menyinggung” keyakinan ataupun “simbol keyakinan” orang lain. Beliau lebih pada menyampaikan dan mengajak.

Sebagaimana maklum dalam Surah Al An’am ayat 108, bahwa ayat ini menegaskan bahwa “makian” atau “menghina” tidak menghasilkan kemashlahatan agama. Sebaliknya, hinaan dapat menimbulkan antipati, ketidak suka-an bahkan pada keretakan harmonisasinya kehidupan.

Allah punya kehendak menjadikan hambanya tidak sama, baik warna kulit, karakter hingga kesengaja-an Allah membuat beda dalam keyakinan ber-Tuhan.

Lalu, sebenarnya apa tujuan Allah meciptakan dunia yang serba berbeda? Bukankah Allah mampu menjadikan semuanya sama? Bukankah Dia mampu membuat semua orang tunduk dan beriman?

Allah menjawab pertanyaan ini dalam Firman-Nya:

وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ -٤٨-

“Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”
(Al-Ma’idah 48)

Salah satu ujian bagi manusia adalah harus hidup dalam perbedaan. Memang bukan hal mudah untuk bisa menerima perbedaan di sekitar kita. Namun itulah ujian dari Allah untuk meningkatkan kualitas diri setiap manusia. Dalam ayat tersebut, Allah SWT sama sekali tidak membahas perbedaan yang ada, namun pada akhir ayat itu Allah memfokuskan agar manusia berlomba dalam kebaikan. Tak usah sibuk dengan perbedaan ataupun keyakinan orang lain. Berlombalah untuk menjadi lebih baik dihadapan-Nya. Maka, kita akan mengingat “pusatnya al Qur’an” yang pada mushaf cetakan lama bertintakan warna merah tebal: “Walyatalatthof” (berlaku lemah lembutlah). Kelembutan meliputi hati, sikap dan tutur kata.

Terdapat kaidah fiqih
“Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih.” Mencegah kemudaratan (hal tidak baik) lebih prioritas dibanding menarik kemanfaatan.” Bukan-lah sebuah kesantunan merendahkan orang lain sambil menaikkan kehebatan diri – pun demikian dalam keyakinan.

Berdakwah di era millenial, harus ekstra menjaga lisan. Penataan hati untuk senantiasa tenang, bijak dalam menyampaikan. Tidak bisa dipungkiri, tentu ada saja pembenci diantara yang suka juga sebaliknya.

Zaman sudah banyak “menunggangi kepentingan”, belum lagi skenario global maupun “paketan” demi visi dan misi tertentu. Semuanya mengelilingi dan terus mengepung ranah pola pikir serta sensitifitas emosional kita.

Menyalahkan, bukan menonjolkan pembenaran pada pihak tertentu. Mencari “latar” atau sebab akan lebih baik.

Media, adalah diri kita. Terlalu kompleks “peristiwa dan pendapat menurut berbagai versi”.
Kita cepat meng-klaim, sebab kompetensi belum pada levelnya. Contoh, seorang anak mendengar cerita masa kecil Ayahnya yg pahit. Cerita itu menjadi “imajinasi” sang anak. Ia hanya mampu menghayal semampu batasan lingkup imajinasinya. Namun, bagi sang Ayah. Hal itu adalah “realis”. Jelas, cara sang anak menceritakan kembali tidak sama dengan sang Ayah yang merasakan.

Jadi, agama ini adalah tentang “rasa”. Cinta sucinya sang Suami kepada istri dengan memuji, bukan menjelekkan selain istrinya. Cinta hamba pada Tuhannya (Allah SWT) akan senantiasa menyebut dan memuji-Nya hingga tak ada waktu mengurusi kejelakan atau keyakinan orang lain. Jika “rasa” yang dikedepankan, maka segala tentang kebaikan dan keindahan yang dicinta-inya yang disampaikan.

Tidak sebatas itu, setiap orang pasti mengatakan agamanya yang paling benar. Jika tidak, diragukan keimanannya. Akan tetapi, dalam interaksi kemanusiaan kita tidak perlu mengatakan. Allah SWT menegaskan
“Lakum diinukum waliyadiin”.

*MahasiswaBeasiswaPergunuAsalSulawesiUtara.

#ditulisdipojokmusholla

TINGGALKAN KOMENTAR

WhatsApp chat