INFO
Selamat Datang di Website resmi SMA NU Juntinyuat
SPMB

Ketika Manusia Lupa Siapa Dirinya

Artikel 5

KESOMBONGAN

Ketika Manusia Lupa Siapa Dirinya

Oleh: Dr. H. Burhanudin, S.Pd.I, M.Pd.I

Kesombongan sering kali tidak datang dengan suara keras. Ia tumbuh perlahan di dalam hati, bahkan terkadang tanpa kita sadari. Seseorang bisa mulai merasa dirinya lebih baik karena memiliki ilmu yang lebih tinggi, jabatan yang lebih besar, harta yang lebih banyak, keturunan yang dianggap mulia, kekuasaan yang luas, atau bahkan karena merasa lebih banyak beribadah daripada orang lain.

Padahal, jika manusia mau berhenti sejenak dan melihat dirinya dengan jujur, tidak ada alasan yang cukup untuk menyombongkan diri.

Kita lahir tanpa membawa apa-apa. Kita tumbuh karena pertolongan Allah. Kita hidup dengan udara yang tidak kita ciptakan, menikmati rezeki yang tidak sepenuhnya kita usahakan sendiri, memiliki kesehatan yang tidak selalu mampu kita pertahankan, dan suatu saat akan meninggalkan dunia tanpa membawa jabatan, harta, popularitas, maupun pujian manusia.

Allah SWT mengingatkan:

«“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
(QS. Al-Isra’: 37)»

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa sebesar apa pun kemampuan manusia, tetap ada batas yang tidak mungkin dilewatinya.

Maka, kesombongan sesungguhnya adalah tanda bahwa manusia sedang lupa kepada hakikat dirinya.

Kesombongan Bermula dari Merasa Lebih

Kesombongan tidak selalu terlihat dalam bentuk membanggakan diri secara terang-terangan. Kadang ia hadir dalam pikiran yang sederhana:

“Saya lebih pintar.”
“Saya lebih berjasa.”
“Saya lebih kaya.”
“Saya lebih berpengalaman.”
“Saya lebih pantas dihormati.”
“Saya lebih baik dalam beragama.”

Ketika perasaan seperti itu mulai membuat kita memandang rendah orang lain, saat itulah hati perlu segera diperiksa.

Sebab ukuran kemuliaan manusia bukanlah apa yang tampak di mata manusia. Allah SWT melihat hati, keikhlasan, ketakwaan, dan amal seseorang.

Iblis Memberikan Pelajaran tentang Bahaya Kesombongan

Al-Qur’an memberikan pelajaran yang sangat dalam melalui kisah Iblis.

Ketika Allah SWT memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak. Ia merasa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.

Allah mengabadikan ucapannya:

«“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
(QS. Al-A’raf: 12)»

Dari kisah tersebut kita belajar bahwa seseorang bisa saja mengetahui kebenaran, tetapi kesombongan dapat membuatnya tidak mau tunduk kepada kebenaran.

Karena itu, persoalan terbesar bukan sekadar apakah kita memiliki ilmu atau tidak, melainkan apakah ilmu tersebut membuat kita semakin rendah hati atau justru semakin merasa paling benar.

Ilmu yang benar seharusnya melahirkan ketawadhuan, bukan kesombongan.

Rasulullah SAW Mengingatkan tentang Kesombongan

Rasulullah SAW bersabda:

«“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.”
(HR. Muslim)»

Para sahabat kemudian bertanya tentang seseorang yang menyukai pakaian dan alas kaki yang bagus. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan.

Kemudian beliau menjelaskan hakikat kesombongan, yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Dari sini kita memahami bahwa Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya, memiliki jabatan, berpendidikan tinggi, berpakaian baik, atau memperoleh kedudukan terhormat.

Yang menjadi persoalan adalah ketika semua kelebihan tersebut membuat seseorang merasa lebih tinggi dan kemudian merendahkan orang lain.

Bukan memiliki kelebihan yang berbahaya, tetapi merasa bahwa kelebihan itu menjadikan kita lebih mulia daripada orang lain.

Semua yang Kita Miliki Hanyalah Titipan

Jabatan memiliki batas waktu.

Harta dapat berubah.

Kekuatan fisik akan melemah.

Kecantikan akan berubah.

Popularitas akan berlalu.

Bahkan ilmu yang kita miliki pun pada hakikatnya adalah karunia Allah.

Maka, semakin banyak yang Allah titipkan kepada kita, seharusnya semakin besar pula rasa syukur dan tanggung jawab kita.

Allah SWT berfirman:

«“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”
(QS. An-Nisa’: 36)»

Jangan sampai apa yang seharusnya menjadi amanah justru berubah menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Jangan sampai jabatan membuat kita lupa kepada orang-orang yang dahulu berjalan bersama kita.

Jangan sampai ilmu membuat kita enggan mendengar nasihat.

Jangan sampai kekayaan membuat kita merasa tidak membutuhkan siapa pun.

Dan jangan sampai banyaknya amal membuat kita merasa lebih suci daripada orang lain.

Tidak Perlu Menunggu Kehilangan untuk Belajar Rendah Hati

Sering kali manusia baru menyadari betapa lemahnya dirinya setelah mengalami kehilangan.

Ketika jabatan berakhir, kita baru memahami bahwa kedudukan tidak selamanya.

Ketika sakit datang, kita baru menyadari betapa mahalnya kesehatan.

Ketika harta berkurang, kita baru memahami bahwa kekayaan tidak selalu berada dalam genggaman.

Ketika seseorang yang kita cintai pergi, kita baru menyadari bahwa kebersamaan pun memiliki batas.

Namun, mengapa kita harus menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur?

Mengapa harus menunggu jatuh untuk belajar merendah?

Mengapa harus menunggu kematian mendekat untuk menyadari bahwa semua yang kita banggakan ternyata hanya sementara?

Selagi masih diberi kesempatan hidup, mari belajar menundukkan hati.

Kita hidup karena Allah.

Kita memiliki karena Allah.

Kita mampu karena Allah.

Dan pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah.

Ukuran Kemuliaan Bukan Seberapa Tinggi Kita di Mata Manusia

Dalam kehidupan, kita sering sibuk membangun citra di hadapan manusia.

Ingin dihormati.

Ingin dipuji.

Ingin dianggap penting.

Ingin terlihat berhasil.

Padahal, yang jauh lebih penting adalah bagaimana posisi kita di hadapan Allah.

Tidak masalah jika manusia tidak mengenal seluruh kebaikan yang kita lakukan, selama Allah mengetahuinya.

Tidak masalah jika kebaikan kita tidak mendapatkan pujian, selama Allah menerimanya.

Tidak perlu merasa tinggi hanya karena manusia memuliakan kita, sebab kemuliaan yang sesungguhnya bukan ditentukan oleh tepuk tangan manusia.

Kemuliaan manusia terletak pada ketakwaannya, keikhlasannya, akhlaknya, dan manfaat yang diberikannya kepada sesama.

Mari Belajar Memeriksa Hati

Sebelum menilai orang lain, mari bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya sudah benar-benar rendah hati?

Ketika dikritik, apakah saya mampu menerima?

Ketika dinasihati, apakah saya mau mendengarkan?

Ketika ada orang lain yang lebih berhasil, apakah saya mampu ikut bersyukur?

Ketika kebaikan saya tidak dihargai, apakah saya tetap mau melakukannya?

Dan ketika saya memiliki kelebihan, apakah saya menggunakannya untuk membantu atau justru untuk merendahkan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu penting, karena penyakit hati sering kali lebih sulit disadari daripada penyakit fisik.

Penutup: Jangan Membesarkan Diri, Besarkan Rasa Syukur

Pada akhirnya, manusia tidak perlu menjadi kecil untuk disebut rendah hati. Manusia hanya perlu menyadari bahwa dirinya memang bukan pemilik mutlak atas apa pun.

Jabatan hanyalah amanah.

Harta hanyalah titipan.

Ilmu adalah karunia.

Kekuatan adalah sementara.

Kehidupan adalah kesempatan.

Dan kematian adalah kepastian.

Maka, jangan sombong atas sesuatu yang suatu saat akan kita tinggalkan. Jangan merendahkan seseorang yang mungkin lebih mulia di sisi Allah. Jangan menolak kebenaran hanya karena datang dari orang yang kita anggap lebih rendah daripada kita.

1. Belajarlah rendah hati ketika dipuji.
2. Tetaplah sederhana ketika berhasil.
3. Tetaplah menghormati orang lain ketika memiliki kelebihan.
4. Dan tetaplah menerima kebenaran meskipun datang dari seseorang yang lebih muda, lebih sederhana, atau tidak memiliki kedudukan seperti kita.

Sebab semakin seseorang mengenal siapa dirinya, semakin ia sadar bahwa hanya Allah Yang Mahabesar.

Kesombongan membuat manusia merasa dirinya besar.
Ketawadhuan membuat manusia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan, menjadikan kita pribadi yang rendah hati, mudah menerima kebenaran, senang menghargai sesama, dan selalu bersyukur atas setiap amanah yang Allah titipkan.

Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Dr. H. Burhanudin, S.Pd.I, M.Pd.I

Apakah informasi ini bermanfaat?