
Di tahun 2011, saya home visit ke siswa yang orang tuanya meninggal di Desa Segeran Lor… Sebagai Guru dan bagian Keagamaan di SMA NUJU, adalah menjalin HARMONISASI dan pengajaran ta`ziah ke keluarga siswa yang orang tuanya meninggal.
Usai memberikan santunan, kami pamit pulang. Tiba-tiba seorang gadis kecil, adik dari siswa saya, berlari menghampiri. Dengan hijab kebesaran dan senyum polos ia berkata, “kesuwun Pak Soleh,” sambil mencium tangan saya. Jepretan kamera teman mengabadikan momen itu secara tidak sengaja. Saya hanya menahan iba melihatnya, lalu pergi. Kejadian itu pun terlupakan.
Delapan tahun kemudian, 2019, di acara Pawidya kelas XII, seorang siswi berprestasi dengan medali di dadanya meminta foto berdua dengan saya. Setelah foto, ia mencium tangan saya dan berkata lirih:
“Terima kasih Bapak, 3 tahun mendidikku tentang arti hidup berdikari tanpa mengharap belas kasih manusia. Kini aku mengerti kenapa Allah yatimkan aku. Karena Pak Soleh mengajarkan anak yatim hanya bergantung pada belas kasih Ilahi…
“Saya terdiam. Lalu ia melanjutkan,
“Sebenarnya aku adalah gadis kecil yang dulu foto sama Pak Soleh, 9 tahun lalu. Sejak itu aku bercita-cita bisa lanjut SMA untuk bertemu Pak Soleh lagi. Alhamdulillah Allah pertemukan.
“Saat itulah saya ingat senyum tulus itu. Saya tanya, kenapa tidak pernah cerita? Ia jawab,
“Aku sengaja tak cerita, karena jika Pak Soleh tahu, akan lain ceritanya.”
Di situlah saya belajar…
refleksi: Apa makna menjadi guru?
Bahwa satu ucapan, satu cium tangan, bisa menjadi doa dan cita-cita yang hidup 9 tahun.
Bahwa legacy guru bukan di papan tulis, tapi di hati murid yang kita bahkan sudah lupa pernah kita temui.
Awalan..edisi serpihan KISAH
Catatan alur kisah ini diambil dari pengalaman pribadi penulis sebagai GURU SMA NU Juntinyuat yang mengalami sendiri dari kisah kisah ini mulai 2010 sampai dengan sekarang.
Kesemuanya dari isi kisah ini tanpa konfirmasi dari pelaku, atau persetujuan dari obyek (pelaku) , karena semua kisah ini tidak mengungkap tentang keuangan , info media atau hubungan pribadi yang bersifat aib.
Kesemuanya dI buat untuk menjadi IBROH ( PELAJARAN ) khususnya di lingkungan keluarga besar SMA NU Juntinyuat.
Banyak pelajaran dari siswa siswi kita yang dijadikan sumber inspirasi dan motivasi , banyak rekam jejak mereka yang membuat kita takjub, kaget, haru, sedih, bahagia, dan bahkan konyol.
RETROSPEKSI ( melihat / meninjau kebelakang ) dibutuhkan untuk memahami , belajar dari pengalaman sehingga bisa merencanakan kedepannya.
Sebagian dari kisah ini adalah GAMBAR POTO LAMA dan diharap bernostalgia akan kenangan , tapak tilas dari siswa siswi kita yang sudah lulus .
Dan pastinya senyum sambil mengingat masa masa itu. Walau ada gambar ilustrasi untuk melengkapi kisah ini. Desember 2025
Penulis
Solehudin Al ayubi
di tulis saat liburan semester I
23 Desember 2025
11 Januari 2026.
SERI KISAH 1 ( 20 CERITA )